Selasa, 08 November 2011

"Rara Dan Cinta Maya-nya"

Aku sakit
Bila menatap matamu
Sadarku bahwa engkau bukan milikku
Aku sakit
Bila ku mengagumimu
Sadarku kau tak pernah mengagumi ku
Bangunkan aku dari tidur panjangku
Sadarkan aku dari mimpi tentangmu
Ku salah bila ku berharap padamu
Salah ku paksa kau tuk mengagumi ku
Kau tak tau perasaan ku
Dan ku tak mau kau tau
Aku sakit
Jika kau tau hatiku
Karna diriku tak berarti bagimu
Aku sakit
Bilakah kau sembuhkan aku
Tak mungkin, tak mungkin sungguh tidak mungkin

Dinginnya malam dan hembusan udara malam begitu kuat menusuk tulang, kupercepat langkahku untuk mencapai pintu gerbang rumah pamanku, dengan tujuan pasti, kamar, tidur, capek uffhhh. Tidak biasanya aku pulang kerja selarut ini, kalau tidak karena menunggu "dia", rasanya sudah dari tadi aku hengkang dari warnet, harapan bertemu via cam dengannya lah yang memaksakku betah ngendon diwarnet, meski sebenarnaya jam kerjaku telah usai sejak 3 jam sebelumnya

Bukk....
Segera saja kuhempaskan tubuhku diranjang dalam kamar mungil bernuansa biru pink hasil kreasi amatiranku, meski semua orang mengatakan sumpek jika masuk ke dalam kamarku, tapi tidak denganku, aku akan betah berlama-lama di sini, sekedar baca, nulis ataupun hanya mendengarkan musik dari cd player bututku, secara warna, kamar ini sangat jauh dari bagus, kamar yang kucat sendiri 3 tahun yang lalu, kamar yang hanya berukuran 2x3, dan kamar yang penuh dengan stiker madonna, idolaku.

Bunyi keroncongan perut laparku tiba-tiba terdengar, sepertinya minta di isi setalah hampir seharian ini penguasa jasad melupakan keberadaannya, ya!! kesibukanku menebak-nebak akan "kehadirannya", kegelisahan menunggu sapaan cintaku, dan keragu-raguan akan kehadiran Lelakiku membuatku melupakan akan arti lapar dan haus. Segera saja kusikat 1 batang coklat silverquenn pemberian sahabatku waktu ultah kemarin, dengan ditambah 1 gelas air mineral sudah cukup membuat perutku diam kekenyangan.

untuk yang ketiga kalinya dia berjanji padaku,akan menemuiku,akan menjemput cintaku,dan akan membawaku ke dalam taman cintanya,tapi dia hebat membuat alasan ,yang membuat hati rapuhku percaya akan semua perkataannya,sudah banyak yang bilang,aku pasti terbohongi dengan dia,tapi kenapa hati ini selalu protes jika mereka bilang itu padaku,hatiku tak bisa menerima semua kata mereka.

secara diam diam aku menaruh harapan padanya,jujur aku sudah membayangkan hal terindah jika aku hidup bersamanya kelak di dunia nyata,tapi lama kelamaan aku juga berfikir " apa kata mereka benar ? " aku hanya di bohongi ?" ,aku ngga bisa terima jika semua ini benar, kataku dalam hatiku sendiri.tapi segera ku redam perasaan itu,hatiku berkata bahwa itu tak benar,aku ngga bisa bayangkan dia setega itu padaku.

"assalamualiakum"
sapaku mengawali pembicaraan kami ,ucapan yang selalu ku ucapkan ketika aku bertemu dengannya di YM,
"wa'alaikumsallam dhe' ?" dari layar komputerku "dia" membalas sapa'anku.
Dhe' nanti malam aku On Cam,
"what.........?,ada apa ini,gg biasanya mas ngomong begitu "?
udah saatnya engkau tau siapa dan bagaimana sebenarnya diriku "karena aku ngga mau berlama lama menyimpan ini semua dhe'.
dengan senang kusambut kata kata masku,mas pujaan hatiku,yang udah lama kunanti 5 bulan terakir ini...
"hu'um mas,ku mau lihat,wajahku berseri di depan YM ,senyum ku emban dibibir mungilku yang dihiasi tahi lalat di bibir sebelah kiriku"
kenapa kok tiba tiba mas bilang begitu,tanyaku memburu,ngga seperti biasanya kataku lagi"
iya dhe',karena mulai besok aku udah............. dia menghentikan kata-katanya,yang membuat jantungku berdetak hebat.
"udah apa ?"aku semakin penasaran dengan sikapnya yang tiba tiba ingin On cam dan berbicara seperti itu.
"iya karena mulai besok aku udah ngga bisa OL lagi setiap sa'at, dah ngga bisa ngeblog lagi,"!
kenapa ....?

"blog yang mempertemukan aku dengannya,blog jugalah yang mambuatku mengenalnya,dan lewat blog jugalah aku sedikit tau tentang dia.dia melanjutkan perkataannya padaku,aku yang masih menunggu jawaban dia masih merenung di depan Komputer di Warnet tempatku bekerja".

"ada pertemuan itu menyenangkan,tapi saat berpisahpun harus tetap menyenangkan"
maksudnya ? aku semakin ngga ngerti dengan semua yang dia bilang padaku barusan,kuulangi lagi pertanyaanku yang langsung mencoba mengingat kata temen temenku,kalo dia memang berbohong padaku"
jadi bener mas ngga bakal menemui aku sampe kapanpun?"kuberanikan diri menanyakan hal ini padanya dengan hati yang udah ngga karu-karuan lagi.
"bukan itu maksdku,aku tetap akan menemuimu dhe' , memenuhi janjiku padamu tapi......
tapi apa lagi,aku dah mulai emosi dengan semua permainan cintanya"
tapi bukan pertemuan yang seperti kamu inginkan,aku menemuimu hanya untuk memberikan hadiah dari seorang kakak untuk adeknya.."
"hadiah ?, kakak ?"
aku makin ngga tau lagi harus bicara apa sama dia ,kata katanya semakin aneh buatku,kata katanya menunjukkan hal yang ngga aku tau tentang dia,hal yang di sembunyikan rapat olehnya"
iya aku lebih pantas jadi kakakmu,bukan kekasihmu ............

seketika itu seakan jantungku berhenti berdetak,bumipun kurasakan telah berhenti dari putarannya,aku tau dia akan mengungkap semua yang belom aku tau,entah apa itu,aku yakin dia berat untuk mengatakan ini padaku,aku juga yakin pasti tak ada sedikitpun niat untuk melukai perasaanku,menghancurkan hati rapuhku menjadi potongan-potongan kecil ,yang tak bisa terlihat lagi bentuknya, aku yakin itu.

kenapa .........?
aku melanjutkan pertanyaanku untuknya yang mungkin terkesan agak terburu buru,karena aku sudah ngga sabar lagi mengungkap semua yang disembunyikannya selama ini.

iya dhe',aku labih pantas jadi kakakmu,usia kita beda jauh..
kenapa baru sekarang perbedaan usia diantara kita yang mas masalahin,bukankah mas juga dah tau,kalo aku tau itu.dan mengapa baru sekarang mas bahas soal ini,hatiku berontak protes ngga terima atas semua yang dia bicarakan barusan.
bukan itu,umurku sekarang 40, bulan Februari lalu..

dulu dia bilang padaku jarak usia kita hanya 10 thun,saat thu aku berumur 20thun,tapi dia berbohong soal ini.Ya Rabb,ya Tuhanku,berikan aku kekuatan,bantulah aku membendung air mata ini,supaya tak tertumpah olehnya.
mas ngga jujur padaku,mas mebohongi aku,mas kecewain aku,dan tanpa terasa Air mata ini udah membasahi kedua pipiku dan langsung menetes ke celana jins hitam yang kupakai,dan langsung disusul air mata berikutnya yang sudah mengantri ingin tumpah sejak tadi,hujan tangispun tak terelakkan,aku menangis didepan komputerku,tanpa memperdulikan orang yang sedang lalu lalang memasuki ruangan ini.

begitukah mas memperlakukanku,begitukah cara mas mengartikan kepercayaanku,mas jahat sama aku" aku terus menerus memberikan dia hujan protes dariku,yang mungkin membuat dia "sakit",aku tak memperdulikan apa yang dia fikirkan.

inikah bukti cinta mas padaku,inikah rasa sayang mas padaku,?"
sebuah kebongan inikah yang mas janjikan selama ini?
"maafkan aku dhe',maafkan aku karena telah membohongi kamu soal umurku".
mas fikir ini mudah bagiku,dengan gampangnya mas bilang seperti itu padaku,mas ngga pernah mikirin perasaanku sedikitpun," aku tau dia pasti juga sudah siap menerima tuduhan-tuduhan ngga pentingku,aku juga tau,dia pasti sudah mempersiapkan semuanya saat berterus terang padaku ,aku juga ngga tau,udah berapa kali dia menerima hal yang sama seperti ini,sebenarnya aku ngga mau hal ini berlarut larut ,dan terlalu menyakitinya , mungkin bukan hanya aku yang sakit,tapi dia juga,5 bulan bukan waktu yang pendek untukku mengenal sedikit dari sifat dia.

kenapa mas ngga bilang aja terus terang saat kita pertama kali berteman,saat mas mengenalkan diri mas padaku,kenapa ?
"dengan singkat dia menjawab" karena aku menyukaimu sejak pertama melihat fotomu,dan aku ingin jadi kekasihmu untuk sementara saja,"

aku udah ngga sanggup lagi untuk berkata , sudah cukup aku mengetahui semuanya,mengetahui kebohongannya,dan mengetahui bahwa selama ini dia hanya mempermaikanku,dia telah menyakitiku,dengan kata cintanya,dengan semua Rayuannya,sungguh aku kecewa dengannya,sangat kecewa.!!

Sejak sa'at itu aku memutuskan untuk ngga lagi berhubungan dengannya sebagai seorang kekasih,aku tak mau mendengar lagi semua penjelasannya,untuk pertama kalinya hatiku terlukai oleh Cinta maya ini,dan aku baru sadar,semua perkataan teman temanku benar,mereka benar dan aku salah menilai semua rasa sayangku padanya,karena ini dunia maya,dunia yang benar benar "PENUH KEBOHONGAN". dan aku berjanji pada diriku sendiri,ngga akan lagi aku terlalu percaya dengan semuanya yang ada di Maya,apapun itu,aku juga ngga akan percaya dengan perasaanku tanpa dibuktikan.

dan kini aku kan mulai jadi diriku sendiri,Rara yang dulu ,seorang yang ceria,cuek,dan tetap semangat menjalani hidup,karena ku tau,masih banyak teman diluar sana yang sayang dan selalu jujur padaku,dan semoga ini ngga akan terulang lagi,karena pengalaman ini adalah guru terhebatku,Allah telah mengingatkanku untuk tak percaya dengan seorang yang mempunyai "niat lain" selain "SAHABAT",dan ini akan menjadi pelajaran berharga buatku.

"Rara Dan Cinta Maya-nya"

"Sebuah Ketulusan"

"Aku udah ngga bisa lagi deket sama kamu, ini demi kebaikan kita. Mulai sekarang kamu jauhin aku, jangan hubungin aku lagi!!"

Kata-kata itu yang selalu ada di otakku, sampai mata ini tak bisa terpejam. Aku merasakan sakit ketika mengingat dia, aku sakit ketika kata-kata itu selalu datang menohok hatiku hingga ke bagian terdalam. Entah seberapa dalamnya hingga aku tak bisa lagi membayangkan, bagaimana cantik wajahnya, betapa halus perasaannya, dan betapa lembut prasangkanya terhadapku. Aku tak mengerti kenapa dia mengucapkan kata-kata itu, aku tak tahu kenapa dia bisa bersikap seperti ini padaku.

Sampai larut begini aku masih kerap memikirkan dia, suara burung kakak tua dari jam dindingku, menandakan sudah jam 11.00 malam. Tapi entah kenapa, malam ini mataku enggan terpejam. Kulihat kembali handphone slide-ku, yang biasanya selalu berdering menerima sms darinya. Tapi tidak untuk kali ini! Tuhan...... apa yang aku terjadi dengan perasaan ini? Kenapa aku menjadi seperti ini? Aku tak bisa begini! Aku ingin dia menjelaskan semuanya padaku!

"Tok....tok... tok .. tok..... Nandha........!!
Nandha,......... udah pagi ni........!!
" Kudengar suara teriakan dari luar kamarku.
“Nandha.....!!” Terus aja suara itu melengking keras dari balik pintu kamar.
“Iya iya....!” Aku mencoba menghentikan suara berisik itu, yang tak lain adalah Kak Ira yang rutin membangunkanku. Setiap pagi, ketika aku asyik bermolor-molor ria, dia pasti akan berteriak-teriak depan pintu kamarku sampai aku menjawab, tanda kalau aku sudah bangun.


Bergegas aku mengambil handuk biruku. Kulihat Kak Ira di ruang makan, tersenyum kecut melihat tingkahku yang gelagapan tak karuan karena kesiangan, tapi aku tak peduli dengan Kak Ira, dia sudah biasa seperti itu , mengejekku dan selalu menggoda aku dengan gerakan matanya.

"Kamu kenapa sich Nand?” Matanya menelanjangi semua gerak gerikku.
“Ngga papa kok kak,” jawabku cuek.
“Ehm…yang bener Nda, aku kenal kamu, aku tau kamu, udah jangan boong ama kakak,” Kak Ira terus memburuku, mencari penjelasan dengan semua sikap aku terlihat tidak seperti biasanya.
“Nanti aja kak aku ceritain, udah siang,” sambil kulihat jam tanganku yang hampir menunjukkan jam setengah tujuh, sementara perjalanan ke sekolah membutuhkan waktu 25 menit.
“Ya udah dech kalo itu maumu, yang jelas kamu jangan terlalu mikir ya Nda,” seolah Kak Ira sudah tahu benar dengan semua yang aku rasakan.
“Iya kak,” jawabku dan langsung berlalu meninggalkan Kak Ira sendiri di meja makan.

25 menit udah berlalu, SMADOR pun sudah di depan mata. Dengan langkah berat aku memaksa kakiku untuk masuk ke dalam kelas, dengan harapan aku bisa menghadapi hari ini tanpa tegur sapa Ary. Belum selesai hati ini meyakinkan perasaan untuk nerima semua perlakuan Ary kemaren, kulihat sesosok gadis manis duduk di bangku pojok persis di depan tempat dudukku.

Selangkah demi selangkah akhirnya aku bisa juga duduk di kursiku, perasaan semakin tak karuan memandanginya dari belakang.

“Apakah dia juga merasakan hal yang sama denganku?”
“Apakah dia tau perasaanku seperti ini?”
Hah entahlah! Seperti orang gila aku mencoba menenangkan diriku sendiri di atas perasaan yang terus bertanya-tanya tentang alasannya!!

Sebenarnya aku tak ingin masalah ini mengganggu semua pelajaran hari ini, tapi yang aku butuhkan hanya penjelasan dari dia, hanya itu yang ada di otakku sejak tadi pagi.

“Ary…Ary tunggu,” kuhampiri dia yang berjalan menjauh dariku.
“Ary tunggu!!” Kukeraskan suara, barang kali dia tak mendengar penggilan pertamaku.

"Ada apa lagi Nda?" Jawabnya tanpa melihat ke arahku.
“Ry, aku ingin kamu jelasin kata-kata kamu kemaren,” desakku.
“Kamu tau aku kan Ry, kamu tau kan gimana bingungnya aku, dan apakah kamu tau semaleman aku mikirin keputusan kamu yang ngga kumengerti sedikitpun?”

"Mau dijelasin kayak gimana lagi Nda? Semuanya dah cukup jelas, jangan tanya ini lagi sama aku,” jawab Ary.
“Aku cuma ngga ingin kamu terluka Nda, aku ngga ingin kamu tersakiti.”

Entah apa yang dia rasain waktu itu. Kulihat airmatanya mulai jatuh dari matanya yang sipit, dan mulai membasahi pipinya yang kemudian jatuh ke kerudung warna coklat. begitupun seterusnya, disusul air mata berikutnya yang aku rasa sudah mengantri sejak tadi.

Kuarahkan jari tanganku ke pipinya, kuusap air matanya, “kamu kenapa Ry? Kamu ngga papa kan? Apa yang sebenernya kamu pikirkan? Apa yang kamu mau dari aku?” Aku terus memburu dan berharap dia penjelasan padaku saat itu juga.

Aku mengajaknya duduk di bangku taman sekolah, dia mulai cerita semua yang dia alami, 1 menit, 2 menit, 5 menitpun berlalu.....

"Ary belom juga mau menceritakan apa alasannya dia bilang seperti itu padaku ,aku yang semakin penasaran dengan semua sikap diamnya padaku, degub jantungkupun udah ngga karu-karuan lagi"
"Ary... diammu ngga akan nylesain ini semua,beri tau padaku ,apa yang sebenernya kamu rasain, tolong Ry.... jangan bikin hatiku lumpuh seperti ini" aku mencoba mengiba supaya dia mau untuk segera Berbagi perasaanya denganku.

"tatapannya mulai mengarah padaku , air matanya yang belum kering di kedua pipinya membuat aku semakin ingin tau,kenapa dia bersikap seperti ini padaku...,"

"Nda.... kamu tau kenapa aku bilang seperti itu padamu ?
kamu tau,gimana perasaanku sa'at menyuruhmu pergi menjauhi aku....
tapi kamu harus tau satu hal Nda,aku harus melakukan ini......
"kamu harus tau nda ,aku dah ngga bisa nyimpen ini semua sendiri "

"Kutatap matanya dalam dalam,dan kuraih tangannya serta kugenggam jari jemarinya.. aku disini Ry....,
aku Disini, nemenin kamu,
dan ngga akan pernah ninggalin kamu sampe kapanpun ...
aku jauh lebih sakit Ry kalo jauh darimu,aku ngga bisa berdiri setegap saat bersamamu,apapun kondisimu ,apapun keadaanmu yakinlah,kamu masih tetap punya aku, dan semua rasa ini,rasa ini akan membawamu dalam semangat yang ngga akan pernah pudar,kamu tau kenapa,karena kamu milikku yang paling berharga",sampai kapanpun!!

tanpa kusadari air mata inipun jatuh,kuraih tubuh Ary yang mungil dalam dadaku,yang kurasakan hanyalah kenyamanan, kedamaian,serta rasa cinta yang begitu dalam, aku ingin dia tau,kalau aku akan selalu ada buat dia.

"Ary yang menyuruh aku meninggalkannya,karena dia merasa ngga pantas buatku ,kanker otak yang dia sembunyiin dariku , penyakit ganas itu yang membuat dia berkata seperti ini , karena takut aku akan meninggalkannya , semua itu salah, karena aku ngga akan pernah meninggalkannya.

Jemput Aku

sudah hampir 20 tahun aku hanya bisa terbujur kaku di tempat tidur ini, menikmati gelapnya malam yang mencekam serta penuh dengan rasa enggan aku "terpaksa" menaruh hidupku di bawah atap gubuk reot ini, tapi inilah hidupku, yang mau tak mau harus kusadari dan ku nikmati senikmat orang meneguk kopi pait di pagi hari, aku telah letih, aku telah capek hidup seperti ini..

suamiku tlah mendahuluiku memeluk mimpi indahnya di angkasa sana, beranjak dari tempat yang paling patut mungkin untuk kupikirkan, aku ngga' ngerti, aku tuli, aku tak mampu berdiri, bahkan hanya untuk menopang tubuh kurusku yang sudah senja ini.

entah rasa apa yang aku rasakan, semuanya begitu hampar, semuanya begitu kelam, semua sangat membuatku tersenyum, tersenyum dalam siksa yang mungkin ini hidup yang harus kuterima, hidupku bertopang pada orang yang mengasihaniku, aku tak mengharap, yang aku tau, aku ingin pergi dari dunia ini, mengakhiri semua derita "manisku", dan menyusul suamiku kesinggasana yang maha kuasa.


aku ingat saat merawatnya, menimangnya dalam pelukku, memberikan kasih sayang yang patut dia dapatkan, menceritakan kata-kata yang indah untuk membuatnya bahagia, dan selalu kudendangkan nyanyian jawa yang mungkin telah bosan dia dengar tapi dia tetaplah dia seorang bayi mungil yang tak kenal rasa dan prasangka.

aku menemaninya ketika berangkat sekolah, membujuknya ketika ia merajuk, memberinya pengertian ketika dia sedang bingung dengan semua yang ingin dia ketahui, memberinya kasih sayang yang tak pernah kuberikan kepada siapapun selama ini, bahkan kepada diriku sendiri, semua kulakukan hanya untuk nya, demi masa depannya, dan demi sebuah nama yang baik kelak untuk hidup dan masa depannya, karena dia anak tunggalku.

aku menangis di tengah malamku yang indah, diiringi suara jangkrik yang bersahutan menyambut sepinya hatiku menjadi nyanyian syurga yang blom pernah kubayangkan, aku terus saja memikirkan diriku sendiri disini, termenung menunggu pati yang aku harap segera menjemputku.

"nak dimana kamu sekarang?"

tidakkah kau ingat saat kusentuh keningmu saat kau terbaring ketika kau habis kehujanan pulang sekolah, tak taukah engkau, hatiku gelisah nak, aku ingin mengantikan sakitmu, aku ingin akulah yang menderita itu, senyummu adalah semua semangatku nak, ingatkah kau saat engkau merengek minta uang untuk beli mainan seharga 40 ribu rupiah kepada ibumu ini, aku kebingungan mencarinya, kurelakan menjual perhiasan peningalan ayahmu satu-satunya, hanya untuk garis lengkung di bibirmu".

aku terus bergumam mengingat semua kenangan yang mampu menghiburku menanti kemantian ini, "apakah dia tak ingat ketika aku mengendongnya saat dia merengek "bu.. adi capek jalan kaki", tanganku dengan entengnya menyambut semua rengekannya dengan sabar, apakah dia tak mengingat itu sekarang, 20 tahun memang bukan waktu yang sebentar, batinku terus saja bergejolak memikirkannya.

Perasaanku tak enak ketika kau meninggalkan rumah ini saat berumur25 tahun, hatiku gelisah, gundahku sebagai seorang ibu terus berkecamuk dalam kehidupaku setelah kepergianmu

"Buk.. aku pasti akan datang untuk membawamu serta, aku akan datang untuk menyembuhkan semua deritamu ibu, aku akan datang, percayalah"

kata terahirnya yang ingin sekali kupercaya, kata yang menyakitkanku, dan kata yang sangat kubenci.

kuantar engkau dengan airmataku, melihatmu semakin menjauh hingga mata rentaku tak mampu melihat bayanganmu, sekarang aku bertanya padamu,

"dimanakah kau kini nak ?, mana semua perkataanmu, aku tak sedang memintamu untuk menyembuhkan wanita tak berguna ini, aku tak sedang ingin kau berikan harta yang berlimpah, aku juga tak menginginkan semua milikmu yang berharga itu, aku hanya ingin satu,jenguklah aku walau hanya memberiku segalas air putih, itu akan bisa menyembuhkanku, itu akan membuatku menjadi seorang wanita yang mempunyai harapan dan semangat baru,"

"aku hanya ingin kau jenguk, dan menatap tubuhku rentaku yang tingal tulang dan kulit ini" bisikku yang diiringi air mata tak berkesudahan dari pelupuk mataku.

20 tahun lebih aku menderita kanker ini, aku hanya tergolek tak berdaya di tempat tidurku, jangankan untuk mencari anakku yang entah dimana dia berada, untuk bangun bahkan memiringkan tubuhku kesamping saja aku tak sanggup, perutku terlalu besar dan berat, kanker ini telah meguasaiku, menguasai hari "penuh warnaku", dan kanker ini pula yang menyebabkanku kehilangan anakku.

anakku pergi 15 tahun yang lalu, mungkin dia telah bosan melihatku, mungkin dia sudah tak sanggup lagi untuk mengurusku, ibu kandungnya dan mungkin dia juga telah bosan hidup bersamaku, anak tungalku tak pernah sekalipun menjengukku, bahkan untuk menanyakan kabarku kepada orang lain.

"tidakkah dia ingat, betapa bingungnya aku saat maghrib telah tiba, dan dia tak kunjung datang, aku mencarinya di tengah hujan nan lebat, mencarinya hingga aku tak kenal waktu, yang ternyata dia bersendau gurau bersama temannya, alangkah lega hatiku sebagai seorang ibu melihatnya tertawa, semua rasa dahagaku hilang saat melihatnya, lelahku luntur oleh wajahnya.

"tidakkah engkau merasakan itu anakku ?", sekarang biarlah aku yang renta ini menunggu ajalku, diatas tempat tidur ini, kupasrahkan hidupku kepada sang pembuat hidup, biarlah "Amben ini sebagai saksi patiku".

aku hanya mampu tersenyum menyambut malam yang panjang, dan tak pernah berujung, hanya atap-atap langit yang setiap hari mejadi pemandangan indahku, dan setiap hari aku selalu memohon, "jemputlah aku kepangkuanmu Tuhan", hingga malam menyambutku dengan sunyi, senyap, hingga sang mimpi memelukku dengan lelap.